Orang yang mudah tersinggung = kurang gizi ???
Kalimat yang ada di judul mungkin sudah pernah kita dengar dari beberapa mulut khalayak dan bahkan beberapa web secara gamblang menyebutkan bahwa salah satu ciri dari orang yang mengalami kurang gizi adalah orang yang mudah tersinggung. Apakah hal ini Mitos atau Fakta ?
Menurut Stanga, et. al., (2006), konsekuensi dari malnutrisi sendiri tidak hanya perubahan fisik, seperti kelemahan otot skeletal dan pernafasan, gangguan imunitas thermoregulation, dan sulit sembuh (recovery) dari suatu penyakit, tetapi juga perubahan mental seperti depresi, khawatir, murung, gangguan konsentrasi, dan gangguan pola tidur. Studi ini juga melakukan penelitian dengan mengambil sampel 22 pasien malnutrisi dengan penyakit gastrointestinal. Pada penelitian tersebut, dilakukan penilaian menggunakan kuesioner yang terstruktur dan terstandardisasi. Kuesioner tersebut dapat menilai status mood atau suasana hati pasien. Suasana hati yang dinilai dapat berupa tekanan, depresi, amarah, perasaan bahagia, dan bingung. Lalu, dari studi ini dapat kita ketahui bahwa nutrisi ternyata bisa berdampak pada kesehatan mental seseorang dan juga mempengaruhi lamanya mencapai sembuh pada pasien malnutrisi ini.
Lalu, bagaimana sih, cara kerja daru nutrisi mempengaruhi kesehatan mental seseorang ? Yuk, mari disimak !
Dilansir dari The Conversation (01/03/2016), otak manusia itu terbuat dari nutrisi-nutrisi esensial, yaitu makronutrisi, seperti lemak, karbohidrat, dan protein dan juga mikronutrisi, seperti vitamin dan mineral untuk pembentukannya dan pemeliharaan fungsinya. Kekurangan gizi ternyata berdampak negatif pada otak. Salah satunya adalah orang yang kekurangan zat Iodium dapat mengalami keterbelakangan mental dan kerusakan otak. Tentu sangat berbahaya bukan...
Kekurangan Iodium ringan hingga sedang juga dapat menyebabkan kinerja kognitif yang rendah. Selain Iodium, zat selanjunya ini juga tidak kalah penting. Zat tersebut adalah Asam Folat. Tingkat Asam Folat yang rendah dikaitkan dengan depresi dan malnutrisi pada anak-anak. Kekurangan Asam Folat juga diduga menjadi penyebab kuat munculnya ADHD (Attention-deficit hyperactivity disorder). ADHD ini memiliki ciri berupa tidak mampunya sesorang fokus atau memperhatikan suatu hal, hiperaktif, banyak bicara, dan sebagainya.
Dalam uji coba terkontrol plasebo, suplementasi vitamin-mineral setiap hari mampu mengurangi perilaku kekerasan pelaku remaja hingga 40%. Bahkan pada anak sekolah usia enam sampai 12 tahun, suplementasi vitamin-mineral selama empat bulan mampu mengurangi jumlah perilaku antisosial sebesar 47%. Studi-studi ini memberikan bukti konsep pentingnya nutrisi untuk kesehatan mental.
Oleh sebab itu, Mitos atau Fakta sih orang-orang yang mudah tersinggung tersebut mutlak mengalami kurang gizi. Belum tentu ya teman-teman๐
Jangan jadikan suatu kondisi penyakit menjadi suatu bahan ejekan pada orang lain yaa... Penyakit yang ada atau sedang saat ini berada di sekitar kita harusnya kita basmi bersama dan giat disosialisasikan pada khalayak agar masyarakat teredukasi, bukannya menjadinya penyakit tersebut menjadi suatu bahan ejekan, yang mana malah semakin membuat para penderita tertekan dan merasa apa yang ia alami adalah aib. Maka dari itu, HAPUS STIGMA BAHWA ORANG YANG MUDAH TERSINGGUNG SUDAH PASTI KURANG GIZI.... , karena dikhawatirkan ungkapan seperti ini malah dapat dijadikan bahan ejekan pada orang lain dan tentu hal tersebut tidaklah benar.
Lantas, kenapa kok bisa ya ada orang yang mudah tersinggung dan mudah baperan ???
Dari kacamata psikologi, terdapat beberapa yang masuk golongan orang yang merupakan highly sensitive person. Orang-orang yang masuk golongan ini akan mudah terpancing secara emosional. Dalam situs Chakra Center, psikolog dan penulis buku The Highly Sensitive Person, Dr. Elaine Aron (1997) mendefinisikan highly sensitive person adalah orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang sangat menstimulasi indranya.
Dari buku tersebut ternyata dijelaskan adanya perbedaan antara orang dengan empati tinggi dan highly sensitive person , orang dengan empati tinggi ini disebut sensitif terhadap energi-energi di sekitarnya, tetapi orang seperti ini lebih memfokuskan perhatiannya terhadap pengalaman dan perasaan orang lain atau dengan kata lain turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Sementara, highly sensitive person membuat dirinya sebagai sentral atensi. Saat dihadapkan dengan suatu tragedi yang dialami seorang kerabat, orang empati akan memosisikan diri dalam situasi dan kondisi sang kerabat, sedangkan si "baper" atau orang yang highly sensitive tersebut akan merelasikan tragedi kerabatnya tersebut dengan kehidupannya sendiri dan membawa situasi emosional ini lebih jauh daripada seorang yang empati.
Sifat mudah "baper" ini ternyata tidak selamanya buruk kok gengs. Dalam dunia profesional, khususnya level manajemen, sifat sensitif yang tinggi ada untung dan ruginya. Keunggulannya, orang dengan sifat ini bisa membangun relasi positif dengan sejawatnya, sementara sisi negatifnya adqlah orang yang higly sensitive ini akan mudah kewalahan dan depresi saat bekerja di lingkungan yang jarang sekali tanpa kritikan dan masukan, demikian ditulis White dan Chapman (1997) dalam buku Organizational Communication: An Introduction to Communication and Human Relation Strategies.
Artikel yang saya ambil dari UNSW Sydney, yang ditulis oleh Professor Perminder Sachdev, MD, PhD, otak manusia tersebut terdapat suatu bagian, yaitu frontal lobes. Lobus frontal ini menempati sepertiga bagian depan otak, bertindak sebagai pusat fungsi terkait penilaian, motivasi, pengaturan perilaku, dan kesadaran sosial. Belakangan, pada awal abad ke-20, ahli neuroanatomi mengidentifikasi lobus limbik, yaitu bagian berbentuk busur dari lobus frontal, temporal, dan parietal yang berada di tengah otak. Bagian ini bertindak sebagai pusat emosi. Bagian ini diakui memberikan kontribusi penting untuk kepribadian. Sebagai pemahaman kita berkembang, kepribadian telah dianggap sebagai gabungan dari karakter dan temperamen. Kedua hal tersebut lah yang dapat dijadikan alasan kuat mengapa setiap manusia memiliki kepribadian yang berbeda, dan salah satunya mengapa bisa ada orang snagat mudah "baper" dan bisa kita temui orang yang bahkan sudah tak berperasaan hmmm.
Namun, justru dengan perbedaan ini membuat kita semakin bersatu. Setiap karakterisitik manusia pasti memiliki sisi positif dan sisi negatif. Namun, sejatinya sebagai manusia yang tidaklah sempurna, kita bisa berusaha untuk mendekati kesempurnaan itu. Untuk mu di luar sana yang mungkin sedih mengapa terlahir dengan sifat mudah baperan atau bahkan tidak punya perasaan sama sekali. It's okay, you've been doing great. Tuhan pasti punya rencana indah dengan memberikanmu kepribadianmu seperti itu. Oiya yang terakhir ๐... terima kasih banyak buat kalian yang sudah bersedian luangin waktu untuk baca sampai kata terakhir ini. Have a nice life, everyone !!!

Comments
Post a Comment